Home | PROGRES 5.0 | PROGRES Lanjut Usia

PROGRAM REHABILITASI SOSIAL UNTUK LANJUT USIA (PROGRES LANSIA)

Konsep

Menjadi lansia adalah suatu hal yang akan dialami oleh semua orang. BPS memproyeksikan bahwa pada tahun 2045, Indonesia akan memiliki sekitar 63,31 juta penduduk lanjut usia (lansia) atau hampir mencapai 20 persen populasi. Proyeksi BPS juga menyebutkan bahwa persentase lansia Indonesia akan mencapai 25 persen pada tahun 2050 atau sekitar 74 juta lansia. Peningkatan yang begitu pesat ini membawa konsekuensi tersendiri terhadap pembangunan nasional (Statistik Penduduk Lanjut Usia, 2018). Populasi lansia yang sedemikian besar membawa dampak positif apabila lansia hidup dengan mandiri, sehat, aktif, dan produktif, namun bisa membawa dampak negatif apabila lansia hidup dalam kondisi ketergantungan penuh pada orang lain atau keluarga, sakit dan tidak produktif.

Pada tahun 2018, persentase lansia mencapai 9,27% atau sekitar 24,49 juta orang. Komposisi lansia Indonesia didominasi lansia muda (usia 60-69 tahun) yang persentasenya mencapai 63,39%, sisanya adalah lansia madya (usia 70-79 tahun) sebesar 27,92%, dan lansia tua (kelompok usia 80 tahun keatas) sebesar 8,69%. Pada tahun 2018 setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 15 orang penduduk lansia. Jika dilihat secara total, persentase lansia dengan Kepala Rumah Tangga (KRT) ada sekitar 61,29% atau dengan kata lain enam dari sepuluh lansia di Indonesia berperan sebagai KRT, terlepas apakah mereka produktif atau tidak. (Statistik Penduduk Lanjut Usia, 2018). Tidak adanya persiapan yang matang dalam menghadapi masa tua merupakan akar permasalahan yang dihadapi oleh lanjut usia. Saat ini, permasalahan lanjut usia sudah menjadi isu nasional.

Oleh karena itu, penanganan permasalahan lanjut usia diperlukan program yang komprehensif dan berkesinambungan yang mampu menjawab kebutuhan lansia baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial menginisiasi pelaksanaan Program Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (Progres Lansia) untuk membedakan layanan yang diberikan oleh pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Progres Lansia adalah upaya yang ditujukan untuk membantu lanjut usia dalam memulihkan dan mengembangkan keberfungsian sosialnya yang dilakukan secara terarah, terpadu dan berkelanjutan dalam bentuk rehabilitasi sosial dan pemberian bantuan kesejahteraan sosial. Progres Lansia akan dilaksanakan oleh semua pelaksana rehabilitasi sosial lanjut usia mulai dari pemerintah pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT).

 

Tujuan

Progres Lansia bertujuan untuk memberikan rehabilitasi sosial, pendampingan, dukungan teknis dan dukungan aksesibilitas bagi lansia potensial dan lansia non potensial agar dapat memulihkan dan mengembangkan fungsi sosialnya secara wajar. Selain itu, Progres Lansia juga dimaksudkan agar lansia dapat menjalani kehidupan di masa tuanya secara berkualitas baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

 

Target

Target Progres Lansia adalah lansia potensial dan lansia non potensial yang datanya bersumber dari Basis Data Terpadu (BDT) serta telah diverifikasi dan validasi oleh pendamping lansia yang ada di daerah.  Adapun syarat lansia yang menjadi target Progres Lansia:

  1. Berusia 60 tahun keatas;
  2. Tinggal sendiri atau bersama pasangan lansia di rumah tangga yang sama;
  3. Tidak potensial / potensial
  4. Bukan penerima Program Keluarga Harapan (PKH);
  5. Miskin dan tidak mampu;
  6. Memiliki wali penanggung jawab lanjut usia;

 

Mekanisme

Pelaksana Progres Lansia adalah :

A. Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia

Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia bertugas untuk:

  1. Merumuskan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial lansia;
  2. Menyiapkan pelaksanaan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial lansia;
  3. Menyiapkan penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) dibidang rehabilitasi sosial lansia;
  4. Melaksanakan pemberian bimbingan teknis dan supervisi dibidang rehabilitasi sosial lansia;
  5. Menetapkan dan menyalurkan asistensi sosial kepada lansia maupun lembaga-lembaga sosial yang menangani lansia;
  6. Melakukan pendampingan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan dibidang rehabilitasi sosial lansia.

 

B. Unit Pelaksana Teknis (Balai/Loka) Lanjut Usia di Lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial

Balai/Loka lansia di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial mengalami pengembangan fungsi, yaitu menjadi pusat percontohan dengan peran utama memberikan rehabilitasi sosial lanjut dan peningkatan sumber daya sosial melalui fungsi:

1. Rehabilitasi Sosial Tingkat Lanjut

Rehabilitasi sosial lanjut merupakan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan keberfungsian sosial penerima manfaat, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang dilaksanakan di dalam dan di luar balai/loka rehabilitasi sosial lansia. Kegiatan rehabilitasi sosial tingkat lanjut dilakukan melalui perawatan sosial, terapi, dukungan keluarga, dan bantuan bertujuan.

2. Koordinator Program Regional

Melaksanakan koordinasi program rehabilitasi sosial dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia dan lintas direktorat di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial di wilayah cakupan kerja masing-masing balai/loka. Koordinasi dilakukan dengan Dinas Sosial Provinsi, Dinas Sosial Kabupaten/Kota, Panti daerah atau masyarakat, Lemabaga Kesejahteraan Sosial (LKS) lansia dan masyarakat.  Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah :

  1. Koordinasi Progres Lansia dengan stakeholder atau pihak terkait;
  2. Sosialisasi Progres Lansia;
  3. Melaporkan kegiatan Progres Lansia pada Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia;
  4. Pendampingan program (pelayanan rehabilitasi sosial, pelayanan administrasi, sarana dan prasarana, Sumber Daya Manusia (SDM), supervisi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan Progres Lansia);
  5. Advokasi dalam rangka pembentukan LKS lansia;
  6. Pemetaan sumber daya kesejahteraan sosial

3. Outreach Centre

Balai/loka rehabilitasi sosial merupakan pusat dilaksanakannya kegiatan penyediaan layanan untuk lansia yang mungkin tidak memiliki akses ke layanan tersebut. Layanan yang diberikan bersifat mobile, dengan kata lain pemberi layanan bertemu dengan lansia yang membutuhkan layanan penjangkauan di lokasi yang membutuhkan.

Aktifitas penjangkauan merupakan strategi untuk menjangkau, mengasesmen, mengidentikasi situasi krisis, dan membuat rencana rehabilitasi sosial yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Keterlibatan lansia untuk mencari solusi permasalahan sesuai dengan potensi yang dimiliki dan menghubungkan dengan sumber daya yang ada.

Adapun layanan yang diberikan dalam kegiatan outreach atau penjangkauan meliputi :

  1. Kedaruratan (penjangkauan);
  2. Pendampingan penyelesaian kasus;
  3. Layanan rehabilitasi sosial;
  4. Reintegrasi dan reunifikasi;
  5. Terminasi dan rujukan;
  6. Publikasi (penyebaran informasi).

4. Pusat Respon Kasus  Dan Intervensi Krisis

Pusat respon kasus dan intervensi krisis yang menyediakan temporary shelter berupa rumah aman (save house) serta layanan rujukan ke institusi lain di wilayah kerja masing-masing balai/loka. Temporary shelter adalah tempat layanan sementara yang diberikan kepada lansia dalam jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan sampai dengan mendapatkan layanan yang sesuai, dengan mengimplementasikan manajemen kasus. Layanan yang diberikan di Pusat Respon Kasus dan Intervensi Krisis adalah sebagai berikut:

  1. Menyediakan sarana tempat tinggal sementara;
  2. Memberikan layanan psikososial;
  3. Memberikan layanan rehabilitasi fisik;
  4. Memberikan dukungan aksesibilitas lansia;
  5. Memberikan dukungan penghidupan yang layak;
  6. Menyediakan sarana edukasi;
  7. Memfasilitasi sarana pertemuan untuk saling mendukung dan memperkuat semangat hidup;
  8. Menyediakan layanan rujukan;
  9. Memberikan layanan responsif dan segera.

5. Lembaga Percontohan

Balai/loka sebagai lembaga percontohan merupakan lembaga percontohan pelaksana PROGRES 5.0 NP secara komprehensif dan terintegrasi dengan pendekatan multi-intervensi dan holistik-sistematik berdasarkan continuum of intervention : individual therapy, group therapy, family therapy dan community therapy di wilayah kerjanya. Balai/loka merupakan lembaga percontohan dalam hal:

  1. Menerapkan pendekatan profesional dengan berbagai metode, teknik, dan terapi yang teruji dari berbagai profesi dan keahlian yang dibutuhkan;
  2. Pendayagunaan pekerja sosial untuk melaksanakan pendekatan-pendekatan profesional dengan dukungan para profesional lainnya dan terapis secara inter-discipline;
  3. Mengembangkan pelayanan komprehensif yang mencakup semua dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual serta menerapkan proses rehabilitasi yang lengkap dan berkelanjutan;
  4. Menyediakan terapi-terapi oleh terapis terdidik dan terampil seperti terapi individu, kelompok, psikososial, dinamika kelompok, art therapy, sport therapy, recreational therapy, dan sebagainya;
  5. Memenuhi akreditasi kelembagaan, memiliki ISO, memenuhi sarana dan prasarana yang disyarakatkan, dan menjalankan SOP yang ditetapkan;
  6. Memenuhi sertifikasi bagi pekerja sosial dan Tenaga Kesejahteraan Sosial;
  7. Laboratorium sosial untuk pendalaman penanganan masalah, magang/ praktek dan pembelajaran praktik-praktik terbaik.

6. Pusat Penguatan Layanan Rehabilitasi Sosial

Balai/loka sebagai pusat penguatan layanan rehabilitasi sosial memberikan pelatihan dan keterampilan kepada pengelola lembaga kesejahteraan sosial lansia, pelaksana rehabilitasi sosial lansia dan pendamping sosial lansia. Selain itu, balai/loka juga melaksanakan pemetaan terhadap sumber daya kesejahteraan sosial yang ada di wilayah kerjanya. Kegiatan yang dilaksanakan adalah:

  1. Akreditasi kelembagaan bagi LKS;
  2. Pengembangan program rehabilitasi sosial lansia;
  3. Peningkatan kompetensi SDM di bidang rehabilitasi sosial lansia;
  4. Menyediakan dukungan keahlian, teknis dan konsultasi di untuk semua aspek penyelenggaraan rehabilitasi sosial lansia seperti managemen/respon kasus, advokasi sosial, pemberian terapi, dan sebagainya;
  5. Pemetaan sumber daya kesejahteraan sosial lansia di wilayah kerjanya.

7. Pusat Pengembangan Model Layanan

Balai/loka sebagai pusat pengembangan layanan model melaksanakan pengembangan model layanan rehabilitasi sosial lansia yang meliputi :

  1. Penyediaan pedoman pengembangan model layanan program rehabilitasi sosial lansia;
  2. Melakukan uji coba pengembangan model layanan;
  3. Mengadakan seminar/workshop model layanan lansia;
  4. Melakukan studi banding ke lembaga lain.

8. Instalasi

Balai/Loka rehabilitasi sosial lansia menyelenggarakan instalasi rehabilitasi sosial yang meliputi:

  1. Instalasi asesmen dan konseling;
  2. Instalasi rehabilitasi fisik dan kebugaran;
  3. Instalasi vokasional;
  4. Instalasi demensia dan Alzheimer;
  5. Instalasi paliatif /rawatan khusus;
  6. Instalasi pencegahan infeksi penyakit tertentu;
  7. Instalasi pemulasaraan jenazah.

 

C. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)

Pada Progres Lansia, LKS lansia memiliki fungsi sebagai lembaga pelaksana  program rehabilitasi sosial bagi lansia di tengah masyarakat dalam bentuk pengasuhan/perawatan sosial, terapi, dukungan keluarga dan pemberi bantu. LKS lansia yang menjadi mitra Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia dalam penyelenggaraan Progres Lansia adalah LKS yang terakreditasi dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, termasuk di antaranya kelengkapan administrasi, pengalaman lembaga, target sasaran, SDM dan sarana prasarana lembaga.

 

Kegiatan

A. Rehabilitasi Sosial bagi Lanjut Usia

Kegiatan rehabilitasi sosial lanjut bagi lansia meliputi:

1. Perawatan Sosial

Perawatan sosial diberikan kepada lansia yang berada dalam keluarga (diluar keluarga PKH). Perawatan sosial dilakukan dengan melakukan pendampingan lansia dengan melakukan kunjungan kepada lansia melalui minimal 40 (empat puluh) kali kunjungan yang dilakukan oleh pendamping sosial LKS lansia. Selain itu, perawatan sosial dalam keluarga juga bisa dilakukan dengan penunjukan keluarga pengganti bagi lansia yang sudah tidak memiliki keluarga.

2. Terapi

Terapi bagi lansia adalah bantuan sosial yang diberikan kepada LKS lansia dalam bentuk terapi bagi lansia diantaranya terapi fisik, terapi penghidupan, terapi mental spiritual dan terapi psikososial. LKS lansia pelaksana terapi diwajibkan memiliki pendamping sosial. Pendamping sosial yang akan melaksanakan terapi kepada lansia dengan melakukan kunjungan kepada lansia. Program terapi dilaksanakan terintegrasi dengan perawatan sosial dan dukungan keluarga.

3. Dukungan Keluarga bagi Lanjut Usia (Family Support)

Bantuan untuk lansia untuk menunjang aktivitas lansia di masyarakat baik melalui aktivitas pengisian waktu luang, membangun embrio usaha, pengembangan usaha baru, maupun pengembangan kreativitas di bidang seni, budaya, dan olahraga sesuai dengan minat dan kemampuan lansia.

4. Bantuan Bertujuan Lanjut Usia (Bantu Lansia)

Bantu lansia bertujuan untuk mencegah terjadinya risiko sosial terhadap lansia. Bantu lansia akan diberikan langsung kepada lansia yang digunakan untuk pemenuhan hidup layak.

Syarat untuk memperoleh Bantu lansia, antara lain:

  1. Memiliki NIK dan ID BDT;
  2. Berusia di atas 60 tahun;
  3. Tidak di dalam keluarga penerima PKH;
  4. Tinggal sendiri atau tinggal bersama pasangannya;
  5. Bukan penerima PKH.

Penjelasan lebih rinci mengenai rehabilitasi sosial lansia akan diatur pada Pedoman Direktorat.

B. Pendamping Sosial Lanjut Usia

Dalam melaksanakan program rehabilitasi sosial lansia, tidak bisa terlepas dari peran pendamping lansia yang selanjutnya disebut dengan Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) lansia. TKS lansia adalah tenaga kesejahteraan sosial yang berasal dari masyarakat yang direktrut melalui proses dan persyaratan tertentu untuk melakukan koordinasi dan pendampingan pada semua program rehabilitasi sosial lansia serta yang ditempatkan di daerah (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Balai/Loka Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia). Tugas dan fungsi yang dilakukan oleh TKS lansia adalah :

  1. Mengawal pelaksanaan Progres Lansia di daerah;
  2. Mengumpulkan, mengolah dan memperbaharui data lansia;
  3. Melakukan respon kasus (penjangkauan) terhadap lansia dalam situasi darurat;
  4. Melakukan tugas lain yang secara khusus ditugaskan oleh Kementerian Sosial dalam hal ini Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.

Dalam melaksanakan tugasnya, pendamping sosial lansia akan memperoleh honor, baik yang bersifat mengikat maupun tidak mengikat. Honor yang bersifat mengikat besarannya disesauikan dengan ketentuan yang berlaku dan diberikan setiap bulan pada tahun berjalan. Sedangkan honor pendamping yang tidak mengikat disesuaikan dengan karakteristik kegiatan. Penjelasan lebih rinci mengenai pendamping sosial akan diatur pada Pedoman Direktorat.

C. Dukungan Teknis

Dukungan teknis merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung kegiatan utama program rehabilitasi sosial lansia. Dukungan teknis bertujuan untuk meningkatkan kualitas rehabilitasi sosial pada Progres Lansia melalui :

1. Rapat Koordinasi Lanjut Usia

Rapat koordinasi lansia adalah pertemuan berkala untuk mengkoordinasikan program dan kegiatan rehabilitasi sosial lansia antara Kementerian Sosial RI dengan pihak terkait (Instansi Sosial Provinsi/Kab/Kota, LKS, Balai RSLU, Loka RSLU).

2. Bimbingan dan Pemantapan

Bimbingan dan Pemantapan (Bimtap) adalah kegiatan pemberian bimbingan dan pemantapan kepada para pelaksana Progres Lansia, LKS lansia, dan pendamping lansia agar memahami substansi program dan kegiatan Progres Lansia secara menyeluruh (tidak parsial).

3. Asistensi Progres Lansia

Asistensi Progres Lansia merupakan kegiatan untuk melakukan pendampingan terhadap pelaksanaan Progres Lansia. Tujuannya adalah agar pelaksanaan Progres Lansia sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dan tidak melenceng dari ketentuan yang berlaku. Asistensi ini juga dilakukan terhadap pelaksanaan SPM bidang sosial yang dilakukan oleh daerah propinsi dan kabupaten/kota.

D. Monitoring Progres Lansia

Monitoring Progres Lansia adalah kegiatan pemantauan program dan kegiatan Progres Lansia yang diprioritaskan untuk memperoleh masukan sebagai bahan pembahasan selanjutnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana Progres Lansia telah dilaksanakan dan untuk mengetahui permasalahan apa yang dihadapi. Monitoring ini juga dilakukan terhadap pelaksanaan SPM bidang sosial yang dilakukan oleh daerah  propinsi dan kabupaten/kota.

1. Evaluasi Progres Lansia

Evaluasi Progres Lansia adalah kegiatan untuk menilai dan mengevaluasi apakah program dan kegiatan telah mencapai tujuan dan hasil yang diharapkan. Evaluasi juga dilakukan terhadap pelaksanaan SPM bidang sosial yang dilakukan oleh daerah propinsi dan kabupaten/kota.

2. Sosialisasi, kampanye sosial dan Publikasi

Sosialisasi, kampanye sosial dan Publikasi merupakan kegiatan untuk menginformasikan hal-hal yang terkait dengan Progres Lansia, pelaksanaan SPM dan informasi lain yang terkait dengan lansia. Untuk publikasi dilakukan melalui media massa seperti media cetak, televisi, talkshow, brosur dan lain-lain.

Penjelasan lebih rinci mengenai dukungan teknis akan diatur pada Pedoman Direktorat.

 

E. Dukungan Aksesibilitas

Dukungan aksesibilitas lansia adalah bantuan yang diberikan kepada lansia dalam bentuk pemenuhan hak hidup layak dan aksesibilitas untuk menujang aktivitas kesehariannya, seperti:

1. Pemenuhan Hak Hidup Layak Lanjut Usia

Pemenuhan hak hidup layak lansia adalah bantuan yang diberikan kepada lansia agar terpenuhi hak hidupnya secara wajar.

2. Aksesibilitas Lanjut Usia

Aksesibilitas lansia adalah bantuan yang diberikan kepada lansia untuk meningkatkan aktifitas dan kumudahan bagi lansia.

Penjelasan lebih rinci mengenai dukungan aksesibilitas akan diatur pada Pedoman Direktorat.