Home | PROGRES 5.0 | PROGRES Anak

Program Rehabilitasi Sosial untuk Anak (PROGRESA)

Konsep

Program Rehabilitasi Sosial Kluster Anak yang disebut sebagai Progresa adalah upaya sistemik dan berkelanjutan yang dikembangkan Kementerian Sosial Republik Indonesia dalam merespon perkembangan permasalahan kesejahteraan sosial anak di seluruh wilayah Indonesia. Progresa dirancang untuk menghasilkan upaya pengembangan dan pemulihan keberfungsian sosial anak, keluarga, dan masyarakat melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi sosial bagi anak yang dilakukan secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan oleh Pemerintah Pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah, dan masyarakat. Progresa menjangkau seluruh anak yang mengalami masalah sosial sehingga mereka dapat menikmati kehidupan dan berada dalam lingkungan pengasuhan yang memungkinkannya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensinya.

Tujuan

Progresa bertujuan untuk:

  1. mencegah terjadinya hambatan dan gangguan keberfungsian  sosial pada Anak dan keluarganya; dan
  2. memulihkan dan mengembangkan keberfungsian sosial Anak, keluarga, dan lingkungan sosialnya sehingga memungkinkan Anak tumbuh kembang secara optimal sesuai dengan potensinya, serta menjalani kehidupannya sesuai dengan usianya, tanpa adanya ancaman, tekanan, penelantaran, serta kekerasan.

 

Target

Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 9 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Sosial Di Daerah Provinsi Dan Di Daerah Kabupaten/Kota, PMKS yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah adalah anak terlantar dalam bentuk layanan rehabilitasi sosial dasar.

 

Sedangkan sasaran Progresa terdiri dari:

  • Data anak yang terdapat dalam Basis Data Terpadu yang terdiri dari:
  • Anak di dalam rumah tangga dengan kriteria belum memiliki NIK dan akte lahir, tidak bersekolah, anak dengan disabilitas, dan anak dari orang tua dengan disabilitas, dan bukan penerima PKH;
  • Anak di luar rumah tangga yang merupakan dampingan LKSA (tidak terdata oleh BDT)
  • Data Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus

 

Mekanisme

Pelaksana Progresa adalah:

A. Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak

mempunyai tugas:

  • Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
  • penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria,
  • pemberian bimbingan teknis dan supervisi,
  • serta evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan di bidang rehabilitasi sosial anak.

Dengan fungsi sebagai berikut:

  1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pelayanan sosial rehabilitasi sosial anak balita, rehabilitasi sosial anak terlantar, rehabilitasi sosial anak berhadapan dengan hukum, rehabilitasi sosial anak yang memerlukan perlindungan khusus, dan kelembagaan rehabilitasi sosial anak.
  2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan sosial rehabilitasi sosial anak balita, rehabilitasi sosial anak terlantar, rehabilitasi sosial anak berhadapan dengan hukum, rehabilitasi sosial anak yang memerlukan perlindungan khusus, dan kelembagaan rehabilitasi sosial anak.
  3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pelayanan sosial rehabilitasi sosial anak balita, rehabilitasi sosial anak terlantar, rehabilitasi sosial anak berhadapan dengan hukum, rehabilitasi sosial anak yang memerlukan perlindungan khusus, dan kelembagaan rehabilitasi sosial anak.
  4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelayanan sosial rehabilitasi sosial anak balita, rehabilitasi sosial anak terlantar, rehabilitasi sosial anak berhadapan dengan hukum, rehabilitasi sosial anak yang memerlukan perlindungan khusus, dan kelembagaan rehabilitasi sosial anak;
  5. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang pelayanan sosial rehabilitasi sosial anak balita, rehabilitasi sosial anak terlantar, rehabilitasi sosial anak berhadapan dengan hukum, rehabilitasi sosial anak yang memerlukan perlindungan khusus, dan kelembagaan rehabilitasi sosial anak.
  6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak.

 

B. Unit Pelaksana Teknis (Balai/Loka) Anak di lingkungan Ditjen Rehsos

Balai/Loka di lingkungan Ditjen Rehsos memiliki pengembangan fungsi menjadi center of excellences dengan peran utama memberikan rehabilitasi sosial dan sumber sosial melalui fungsi sebagai berikut:

1. Rehabilitasi Sosial Anak Tingkat Lanjut

Rehabilitasi sosial lanjut merupakan upaya yg dilakukan untuk mengembangkan keberfungsian sosial anak, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang dilaksanakan di dalam dan di luar balai/loka rehsos. Pengembangan keberungsian sosial ini lebih focus kepada meningkatkan kapabilitas sosial dan tanggung jawab sosial. Kegiatan rehabilitasi sosial tingkat lanjut dilakukan melalui pengasuhan/perawatan, terapi, dukungan keluarga, dan bantuan bertujuan.

2. Koordinator Program Regional

Koordinasi program regional yang di lakukan oleh Balai/Loka merupakan kegiatan mengkoordinasikan program-program Rehabilitasi Sosial dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak dan lintas direktorat di bawah Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial di wilayah cakupan kerja masing-masing Balai Besar/Balai/Loka. Korodinasi dilakukan dengan Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota, Panti, LKSA, dan masyarakat.  Program-program yang dilakukan adalah pendampingan sosial, asistensi sosial, dan dukungan seperti pelaksanaan Bimbingan dan pemantapan, Bimbingan teknis, sertifikasi, akreditasi, akseisbilitas, dan monitoring evaluasi.

3. Outreach Centre:

Balai/Loka Rehabilitasi Sosial Anak sebagai outreach center merupakan pusat penyediaan layanan untuk setiap anak yang mungkin tidak memiliki akses ke layanan tersebut. Layanan yang diberikan bersifat mobile, dengan kata lain pemberi layanan bertemu dengan mereka yang membutuhkan layanan penjangkauan di lokasi yang membutuhkan.

Aktifitas penjangkauan merupakan strategi untuk menemu kenali permasalahan anak dan melibatkan anak untuk mencari solusi permasalahan sesuai dengan potensi yang dimiliki.

4. Pusat Respon Kasus Dan Intervensi Krisis

Balai/ Loka RS AMPK sebagai pusat respon kasus dan intervensi krisis adalah Balai/loka yang menyediakan Temporary Shelter/Time Bound Shelter berupa Rumah Aman (Save House) dan Rumah Bahagia (Happiness House) serta layanan rujukan ke institusi lain di wilayah cakupan kerja Balai/Loka. Penyediaan rehabilitasi prima juga dalam bentuk respon kasus dan intervensi krisis sebagai berikut:

  1. Merupakan pelayanan respon kasus untuk anak yang menghadapi situasi krisis yang dirujuk dari panti dan masyarakat.
  2. Respon kasus dan intervensi krisis menggunakan pendekatan manajemen kasus.
  3. Kasus krisis yang ditangani adalah kasus-kasus yang terkait dengan kelangsungan hidup dan keselamatan anak.
  4. Balai/Loka menyediakan layanan rehabilitasi prima dengan berbagai terapi individu, terapi kelompok, terapi keluarga, dan terapi masyarakat sesuai bidang tugas balai serta rumah aman sementara.

5. Lembaga Percontohan

Balai/Loka sebagai lembaga percontohan adalah Balai/Loka menjadi tempat praktik terbaik yang menyelenggarakan PROGRES 5.0 NP secara komprehensif dan terintegrasi. Pendekatan yang dilakukan adalah multi-intervensi dan holistik-sistematik berdasarkan continuum of intervention: individual therapy, group therapy, family therapy dan community therapy di wilayah cakupan kerja.

Balai/Loka sebagai lembaga percontohan melakukan:

  1. Menerapkan pendekatan-pendekatan profesional dengan berbagai metode, teknik, dan terapi yang teruji dari berbagai profesi dan keahlian yang dibutuhkan.
  2. Pendayagunaan pekerja sosial untuk melaksanakan pendekatan-pendekatan profesional dengan dukungan para profesional lainnya dan terapis secara inter-discipline.
  3. Mengembangkan pelayanan komprehensif yang mencakup semua dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual serta menerapkan proses rehabilitasi yang lengkap dan berkelanjutan.
  4. Menyediakan terapi-terapi oleh terapis terdidik dan terampil seperti terapi individu, kelompok, psikososial, dinamika kelompok, art therapy, sport therapy, recreational therapy, dan sebagainya.
  5. Memenuhi akreditasi kelembagaan, memiliki ISO, memenuhi sarana dan prasarana yang disyarakatkan, dan menjalankan SOP yang ditetapkan.
  6. Memenuhi sertifikasi bagi Pekerja Sosial dan Tenaga Kesejahteraan Sosial.
  7. Laboratorium sosial untuk pendalaman penanganan masalah, magang/ praktek dan pembelajaran praktik-praktik terbaik.

6. Pusat Penguatan Layanan Rehabilitasi Sosial

Balail/loka sebagai pusat penguatan layanan rehabilitasi adalah Balai/ loka BRS AMPK memberikan penguatan layanan bagi Dinsos, LKS dan masyarakat melalui Rakor, Bimbingan dan pemantapan,  kampanye sosial (sosialisasi) dan Bimbingan teknis di wilayah cakupan kerjanya.

Balai/Loka merupakan pusat sumber (resource center) untuk penguatan kelembagaan dan kapasitas Panti milik provinsi, Kabupaten/Kota, LKS, masyarakat dan penyelenggara rehabilitasi sosial lainnya dalam hal:

  • Akreditasi kelembagaan bagi LKS
  • Pengembangan program rehabilitasi sosial untuk anak.
  • Peningkatan kompetensi SDM di bidang rehabilitasi sosial temasuk sertifikasi bagi pekerja sosial dan tenaga kesejahteraan sosial.
  • Menyediakan dukungan keahlian, teknis dan konsultasi di untuk semua aspek penyelenggaraan rehabilitasi sosial seperti managemen/respon kasus, advokasi sosial, pemberian terapi, dan sebagainya.

7. Pusat Pengembangan Model Layanan

Balai/loka sebagai pusat pengembangan model layanan di maksudkan untuk menjamin STANDARISASI pelayanan sosial (sistem monev dan supervisi, NSPK, SPM, Pedoman).

Balai Besar/Balai/Loka melaksanakan sepenuhnya berbagai standarisasi dan sertifikasi di bidang kelembagaan, pelayanan, pengelolaan, dan sumber daya manusia yang terkait rehabilitasi sosial untuk menjamin kualitas pelayanan yang diberikan.

8. Instalasi Produksi

Balai/loka Rehabilitasi Sosial AMPK sebagai tempat Instalasi Produksi adalah sebagai Fasilitas Balai/loka dalam pelayanan rehabilitasi sosial anak sebagai upaya memantapkan kemampuan dan keterampilan yang bersifat ekonomis produktif dalam rangka mempercepat kemandirian pasca rehabilitasi.Kegiatan instalasi produksi dimaksudkan untuk mempersiapkan penyandang disabilitas memasuki pasar kerja.

C. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA)

LKS adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. (Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Kesejahteraan Sosial).

Pada progresa, LKS yang bisa dijadikan mitra Ditjen Rehabilitasi Sosial dalam penyelenggaraan Progresa adalah Lembaga Kesejahteraan Sosisl Anak (LKSA) yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, termasuk di antaranya akreditasi lembaga, pengalaman lembaga, target sasaran, SDM dan sarana prasarana lembaga.

LKSA memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan rehabilitasi sosial bagi anak di tengah masyarakat dalam bentuk pengasuhan/perawatan sosial, terapi, dukungan keluarga, dan bantu.

Peran LKS dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial:

  1. mencegah terjadinya masalah sosial;
  2. memberikan pelayanan sosial kepada penyandang masalah kesejahteraan sosial;
  3. memperkuat dan mengembangkan kemampuan serta peran potensi sumber kesejahteraan sosial;
  4. Mengembangkan sistem penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang melembaga dan berkelanjutan;
  5. Menyelenggarakan konsultasi kesejahteraan sosial keluarga dan/atau pelayanan konseling lainnya.

Fungsi LKS dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial:

  1. sebagai mitra Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
  2. sebagai sarana:
  3. penyalur aspirasi masyarakat;
  4. pemberdayaan masyarakat;
  5. pemenuhan pelayanan sosial; dan
  6. partisipasi masyarakat untuk memelihara, menjaga, dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa;

 

Kegiatan

Kegiatan pada Progresa terbagi ke dalam:

A. Rehabilitasi Sosial Anak

1. Pengasuhan/Perawatan Sosial

Pengasuhan merupakan bagian dari program rehabilitasi sosial bagi anak menggunakan metode pekerjaan sosial. Pengasuhan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, kesejahteraan yang permanen dan berkelanjutan demi kepentingan terbaik bagi anak yang dilaksanakan oleh orang tua atau keluarga maupun orangtua asuh, orangtua angkat, wali serta pengasuhan berbasis lembaga sebagai alternatif terakhir.

Pengasuhan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan potensi diri anak melalui kursus dan pelatihan, memfasilitasi akses terhadap layanan sosial, dan memfasilitasi tersedianya alat permainan edukatif.

Tahapan yang dilakukan dalam pengasuhan/perawatan sosial yang dilakukan adalah:

  1. Pendekatan Awal
  2. Penerimaan
  3. Asesmen Awal dan Case Conference
  4. Rencana Intervensi
  5. Pelaksanaan Pengasuhan/Perawatan

Penjelasan lebih rinci mengenai pengasuhan akan diatur pada Pedoman Direktorat.

2. Terapi

Progres Rehsos 5.0 new platform berintikan pemenuhan hak hidup layak dan pengembangan kapasitas fungsional bagi anak. Beberapa layanan yang diberikan adalah intervensi terapi tingkat lanjut yang berupa terapi fisik, terapi psikososial, terapi mental spiritual, dan terapi penghidupan) bagi anak.

Terapi merupakan bentuk rehabilitasi sosial yang diberikan kepada AMPK yang memperoleh Bantu. Terapi terbagi ke dalam 4 (empat) jenis yaitu terapi fisik, terapi psikososial, terapi penghidupan, dan terapi mental/spiritual (peningkatan tanggung jawab sosial dan kemandirian anak). Terapi dilaksanakan sebagai intervensi dalam progres anak dengan kegiatan:

a. Terapi fisik

Adalah terapi yang bertujuan untuk mengoptimalkan, memelihara dan mencegah kerusakan atau gangguan fungsi fisik anak. Kegiatannya meliputi latihan terapeutik, pijat, urut, terapi elektronik. Terapi dalam penggunaan alat bantu sebagai dukungan mobilitas bagi anak penyandang disabilitas.

b. Terapi mental spiritual

Adalah terapi yang menggunakan nilai-nilai moral, spiritual, dan agama untuk menyelaraskan pikiran, tubuh, dan jiwa anak dalam upaya mengatasi kecemasan atau persoalan lainnya serta menemukan makna hidup. Kegiatannya dilakukan melalui meditasi, terapi music, ibadah keagamaan dan/atau terapi yang menekankan harmoni dengan alam.

c. Terapi psikososial

Adalah terapi yang bertujuan untuk memperkuat dan memobilisasi potensi anak serta meningkatkan kemampuan pengelolaan diri dalam lingkungan sosialnya. Terapi psikososial ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan aspek kognisi, psikis dan sosial.

d. Terapi keterampilan hidup/vokasional (lifelihood)

Adalah terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi atau kemampuan anak dan memelihara potensi anak. Terapi ini juga untuk meningkatkan keterampilan dalam lingkungan kerja dan/atau berwirausaha.

Penjelasan lebih rinci mengenai terapi akan diatur pada Pedoman Direktorat.

3. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga merupakan bagian dari program rehabilitasi sosial bagi anak. Dukungan Keluarga bertujuan untuk penguatan kapasitas keluarga untuk meningkatkan keberfungsian sosial anak dan keluarga.

Dukungan keluarga dilakukan melalui kegiatan:

  • Pendampingan oleh pengasuh lembaga kepada keluarga anak melalui kunjungan-kunjungan
  • Temu Penguatan Kapasitas Anak dan Keluarga (TEPAK)
  • Penguatan kapasitas keluarga
  • Penyelenggaraan kelompok bermain keluarga
  • Dukungan bagi keluarga pengganti

Dalam dukungan keluarga juga terdapat kegiatan resosialisasi, yang terdiri dari:

  • Family support
  • Tracing
  • Pemulangan/Rujukan

Penjelasan lebih rinci mengenai dukungan keluarga akan diatur pada Pedoman Direktorat.

4. Bantuan Bertujuan (Bantu) Anak

Bantuan bertujuan merupakan bantuan sosial yang diberikan dengan tujuan untuk memberikan dukungan kepada anak dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Usia 0 s.d. kurang dari 18 tahun
  2. Anak yang mengalami permasalahan sosial lintas provinsi dan lintas negara sesuai dengan Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 59.
  3. Anak yang sudah mendapatkan rehabilitasi sosial dasar sehingga mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensinya.
  4. Diprioritaskan yang terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT). Bagi anak yang belum terdaftar, wajib untuk didaftarkan dalam BDT pada tahun berjalan.
  5. Bukan merupakan penerima PKH.

Penjelasan lebih rinci mengenai Bantu diatur pada Pedoman masing-masing direktorat.

 

B. Pendampingan Sosial

Pendampingan sosial merupakan interaksi dinamis antara PMKS dan pekerja sosial untuk secara bersama-sama menghadapi beragam tantangan seperti merancang program perbaikan/rencana intervensi, memobilisasi sumber daya setempat, memcahkan masalah sosial, menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebtuhan, dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan dengan konteks rehabilitasi sosial.

Kegiatan di dalam pendampingan sosial meliputi:

1. Manajemen Kasus

Manajemen kasus bertujuan untuk dapat mengakses dan mengkoordinasikan pelayanan, sehingga anak yang sangat rawan ini mendapatkan pelayanan yang komprehensif secara berkesinambungan dari waktu ke waktu. Dimana Manajemen kasus dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengurangi frekuensi dan lamanya perawatan klien, penghematan biaya yang harus dikeluarkan, serta memperbaiki hasil, khususnya fungsi sosial dan kualitas hidupnya.

Kegiatan dalam manajemen kasus terdiri dari:

  1. Akses layanan rujukan
  2. Pembahasan kasus
  3. Home visit
  4. Tracking (penelusuran)
  5. Reunifikasi
  6. Evaluasi dan pemantauan

2. Respon Kasus

Respon kasus anak merupakan suatu tindakan memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu permasalahan anak yang terjadi terhadap individu, kelompok atau masyarakat karena terancam keselamatan/kesehatan/kehidupannya. Respos kasus ini dilakukan oleh Balai/ loka,  dimana dalam melakukan respon kasus harus melaksanakan tugas layanan:

  • Kedaruratan;
  • Intervensi krisis;
  • Pendampingan penyelesaian kasus;
  • Rehabilitasi sosial; dan
  • Layanan penguatan penerima manfaat dan keluarga.

3. Pendamping Sosial

Pendamping menurut pasal 1 ayat 12 UU Perlindungan Anak adalah pekerja sosial yang mempunyai kompetensi profesional dalam bidangnya. Karakteristik profesionalisme pekerja sosial adalah penekanannya pada tiga dimensi yaitu kerangka pengetahuan, nilai dan keterampilan, yang dalam pendidikannya, harus dikembangakan ketiga-tiganya secara seimbang dan simultan

Tugas dari pendamping sosial untuk anak yang di sebut dengan nama satuan bakti Pekerja sosial (SAKTI PEKSOS) adalah:

  1. pendampingan progresa
  2. pendampingan lembaga/LKSA
  3. pendampingan respon kasus
  4. pendampingan lainnya

Dalam melaksanakan tugasnya, pendamping sosial memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Penjelasan lebih rinci mengenai pendampingan sosial akan diatur pada Pedoman Direktorat.

 

C. Dukungan Teknis

Dukungan teknis merupakan komponen kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung kegiatan utama. Dukungan teknis pada progresa terbagi ke dalam:

1. Regulasi

Penyusunan kebijakan dalam rangka mendukung progresa, antara lain:

  • Penyusunan NSPK
  • Penyusunan Permensos
  • Penyusunan SOP
  • Penyusunan Pedoman/Juklak/Juknis

2. Rapat Koordinasi

Pertemuan berkala untuk mengkoordinasikan program kegiatan progresa antar Kementerian Sosial dengan pihak terkait lainnya, seperti Instansi Sosial Prov.Kab/Kota, LKS, BRSAMPK, dan LRSAMPK.

3. Peningkatan Kapasitas SDM

Kegiatan pemberian bimbingan dan pemantapan kepada para pendamping anak agar memahami substansi program dan kegiatan progresa secara menyeluruh melalui penguatan kapasitas pendamping anak dan penguatan kapasitas lembaga.

4. Pemadanan Data, Supervisi dan Monitoring Evaluasi

Kegiatan untuk menilai apakah program telah mencapai tujuan dan hasil yang ingin dicapai melalui pemadanan data LKSA dan PM, supervisi LKSA dan SDM, serta monev LKSA, SDM dan PM, serta pelaksanaan binwas.

5. Sosialisasi

Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi terkait progresa melalui kegiatan antara lain: kampanye sosial, publikasi, dan sebagainya.

D. Dukungan Aksesibilitas

Dukungan aksesibilitas merupakan bantuan yang diberikan kepada anak dengan disabilitas berupa alat bantu terapi.