GERAKAN STOP PEMASUNGAN

2017

stop pemasungan  stop pemasungan

KRITERIA JIWA (MENTAL) YANG SEHAT

Prof. Dr. dr. Dadang Hawari (Hawari, 1999) memberikan kriteria jiwa (mental) yang sehat, mengutip dari karakteristik yang diberikan organisasi kesehatan dunia (WHO), yaitu:

  1. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan,
  2. Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya,
  3. Merasa lebih puas memberi daripada menerima,
  4. Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas,
  5. Berhubungan dengan orang lain, secara tolong-menolong dan saling memuaskan,
  6. Menerima kekecewaan untuk menjadi pelajaran pada kesempatan berikutnya,
  7. Mengarahkan rasa permusuhan dengan penyelesaian yang kreatif dan konstruktif,
  8. Mempunyai rasa kasih sayang yang besar.

Pada tahun 1984, WHO menambahkan aspek spiritualitas (agama) untuk menyempurnakan batas kesehatan mental (Khakam, 2014). Adanya aspek agama dalam diri seseorang, seperti keimanan dan ketakwaankepada Tuhan, maka mencakup kesehatan jiwa secara luas karena mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

 

PEMAHAMAN TENTANG GANGGUAN JIWA (MENTAL)

Pendefinisian sesuatu hal menjadi gangguan mental awalnya merupakan penentuan dari apakah perilaku tersebut normal atau abnormal/ menyimpang. Penentuan tersebut, menurut Prof. Suprapti Sumarmo Markam, staf senior Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1976, dalam Basri, 2008) didasarkan pada dua pendekatan, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif berpedoman pada seberapa sering atau tidaknya ssuatu terjadi dengan penghitungan statistik. Berbeda dengan pendekatan kualitatif yang berpedoman pada hasil observasi secara empirik tipe-tipe ideal dan, umumnya, terikat pada faktor sosial-kultural setempat. Hal lain yang perlu diingat dalam menilai normal-abnormalnya perilaku adalah tidak melihatnya sebagai dua hal yang saling berlawanan (dikotomis), melainkan berada dalam satu garis kontinum.

Terdapat beberapa penjelasan mengenai perilaku abnormal, namun dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku abnormal adalah pola-pola emosi, pikiran, dan perilaku yang dianggap patologis karena satu atau lebih alasan, antara lain a) menyebabkan stres pribadi, b) bertentangan dengan nilai/ norma kelompok, c) memunculkan adanya ketidakmampuan (disabilitas) atau disfungsi (Davison & Neale, 2001 dalam Basri, 2008; Kring, Johnson, Davison, & Neale, 2013).

 

FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN MENTAL

Tidak ada satu hal pasti yang menjadi penyebab munculnya gangguan mental pada seseorang. Oleh karena itu, bagaimana menjawab pertanyaan, "Mengapa seseorang mengalami suatu gangguan mental?" dapat dijelaskan dari beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan tersebut, antara lain pendekatan secara biologis, sosial, dan psikologis (Kring, dkk., 2013).

Pendekatan secara genetik-biologis menjelaskan bahwa munculnya gangguan mental dapat disebabkan karena gen (keturunan), perbedaan sistem saraf dan hormon, atau perbedaan bentuk otak. Pendekatan biologis dapat dikatakan sebagai faktor internal yang dibawa oleh seseorang. Lalu pendekatan sosial menjelaskan adanya pengaruh dari luar diri seseorang, seperti pola asuh orang tua ataupun kejadian-kejadian yang dialami dalam hidupnya, yang dapat dikatakan sebagai faktor eksternal. Pendekatan psikologis sendiri menjelaskan bagaimana cara pikir, nilai yang dipegang, dan kepribadian seseorang.

Pendekatan lain adalah diatesis-stres. Pendekatan ini mengintegrasikan ketiga paradigma tersebut, yaitu genetik, biologis, sosial, dan psikologis (Zubin & Spring, 1977 dalam Kring, dkk., 2013). Diatesis merujuk pada semua karakteristik yang dimiliki seseorang yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan mental, sedangkan stres merujuk pada kehidupan atau peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang, yang memicu munculnya gangguan mental. Misalnya pada individu A memiliki diatesis berupa faktor genetik, faktor psikologis, dan faktor sosial yang berpengaruh terhadap munculnya gangguan mental tertentu. Sedangkan pada individu B, ia hanya memiliki faktor genetik dan faktor psikologis yang berpengaruh pada gangguan mental tertentu. Pada level stres atau pengalaman hidup yang sama, gangguan mental dapat dialami oleh individu A sedangkan individu B tidak mengalaminya.

 

KLASIFIKASI GANGGUAN MENTAL

Untuk membahas klasifikasi gangguan mental, hal yang pertama harus kita perhatikan adalah dengan menghindari labeling atau pemberian nama. Ada terdapat perbedaan antara klasifikasi dan labeling (Basri, 2008). Pada labeling, yaitu dengan memberi label atau cap pada seseorang dalam suatu klasifikasi atau golongan tanpa tujuan yang jelas. Hal tersebut perlu dihindari karena dapat menyebabkan dampak yang tidak menyenangkan bagi yang diberi atau yang memberi label. Bagi yang diberi label akan muncul perasaan malu, sakit hati, atau bahkan justru memperkuat dan mempertahankan tampilnya perilaku yang sama. Misalnya memberi label pemalas, pemarah, atau lainnya. Berbeda dengan labeling, klasifikasi umumnya dilakukan oleh petugas profesional (psikolog, dokter, atau tenaga medis lainnya) dengan tujuan tertentu, antara lain, untuk komunikasi anta petugas profesional dan pemahaman tanpa perlu menjelaskan panjang lebar ciri-ciri dari gejala yang muncul (Kaplan, Sadock, & Grebb, dalam Basri, 2008).

Cara penggolongan atau klasifikasi gangguan mental sudah mengalami perubahan dari tahun ke tahun, namun tetap didasarkan pada diagnosis psikiatri formal. Di Indonesia umumnya mengacu pada Diagnostic and Stastical Manual of Mental Disorder (DSM) yang disusun oleh American Psychiatric Association (APA), yang sampai saat ini sudah terbit DSM-V (terbit pada tahun 2014). Selain itu terdapat Pedoman Penggolongan dan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ, edisi terakhir adalah PPDGJ-III yang terbit pada tahun 1993), yang menggunakan acuan dari International Classification of Diseases (ICD) dan disusun oleh World Health Orgnzation (WHO).

Berdasarkan penggolongannya terdapat beberapa jenis gangguan mental, antara lain (Fausiah, 2008)

  1. Gangguan somatoform dan gangguan buatan (Fausiah, 2008).

    Gangguan somatoform adalah kelompok gangguan yang meliputi gejala fisik (misalnya nyeri, mual, dan pening) namun tidak ditemukan penjelasan secara medis. Gejala yang dirasakan cukup serius, sehingga menyebabkan stres secara emosional atau bahkan sampai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, baik kehidupan sosial ataupun pekerjaan, individu yang mengalaminya. Jenis-jenisnya antara lain gangguan nyeri, gangguan kecacatan tubuh yang tidak nyata (body dysmorphic disorder), hipokondriasis, gangguan konversi, dan somatisasi.

    Sedangkan gangguan buatan muncul dimana seseorang secara sengaja membuat gejala gangguan fisik atau mental dengan memalsukan sejarah serta gejalanya, contohnya malingering. Umumnya individu yang mengalami gangguan tersebut berlebih-lebihan dalam menunjukkan bahwa dirinya adalah 'pasien' dengan tujuan eksternal, seperti a) menghindari situasi sulit, seperti hukuman atau tanggung jawab, b) memperoleh kompensasi, misalnya perlindungan polisi persediaan obat gratis, dan lain-lain.

  2. Gangguan disosiatif (Widury, 2008)

    Gangguan disosiatif adalah gangguan yang ditandai dengan adanya perubahan perasaan individu tentang identitas, memori, atau kesadarannya. Pada individu yang dikatakan sehat mental, muncul keutuhan dirinya yang merupakan integrasi atau gabungan dari pikiran, perasaan, dan tindakan, yang secara bersamaan membentuk sebuah kepribadian yang unik pada masing-masing individu. Ketika seseorang tidak mampu menyelaraskan ketiganya, salah satu akibat yang muncul adalah gangguan disosiatif. Beberapa jenis gangguan disosiatif antara lain, amnesia disosiatif, fugue disosiatif, gangguan depersonalisasi, dan gangguan identitas disosiatif.

  3. Gangguan seksual (Fausiah, 2008)

    Gangguan seksual terbagi menjadi gangguan parafilia dan gangguan disfungsi seksual. Gangguan parafilia berarti adanya penyimpangan yang melibatkan ketertarikan seksual terhadap obyek yang tidak biasa atau aktivitas seksual yang tidak biasa (Davison & Neale, dalam Fausiah, 2008). Gangguan parafilia sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain fetishism (pada obyek tidak hidup), transvestic fetishism (dengan menggunakan baju perempuan dan umumnya terjadi pada laki-laki), pedofilia (pada anak kecil yang belum mengalami puber), inses (terhadap keluarga dekat), voyuerism (melihat orang lain tanpa busana atau melihat orang lain melakukan hubungan seksual), eksibisionisme (menunjukkan alat kelaminnya pada orang lain yang tidak menghendakinya), frotterurism (menggosokkan alat kelaminnya pada orang lain atau memegang payudara/ alat kelamin perempuan), serta sadisme seksual (dengan menimbulkan kesakitan atau penderitaan pada orang lain) dan masokisme seksual (dengan menjadi korban untuk disakiti atau dipermalukan oleh orang lain).

    Gangguan disfungsi seksual sendiri merupakan masalah-masalah seksual yang dianggap menghambat siklus respon seksual yang normal, seperti gangguan hasrat seksual, gagguan perangsangan seksual, gangguan orgasme, dan gangguan rasa sakit seksual.

  4. Gangguan cemas (Fausiah, 2008)

    Pada kehidupan sehari-hari, kecemasan adalah hal yang wajar dialami manusia. Namun ketika kecemasan yang muncul secara berlebihan dapat menjadi gangguan dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari individu yang mengalaminya. Pada taraf yang wajar, kecemasan membantu seseorang dalam menyiapkan antisipasi dalam menghadapi sesuatu yang berbahaya atau yang tidak ia inginkan. Misalnya pada seseorang yang cemas ketika harus melakukan wawancara pekerjaan, akan menyiapkan dirinya dengan berlatih tanya jawab atau mencari tahu mengenai pekerjaan dan perusahaan tempat ia melamar. Sedangkan pada seseorang yang cemas berlebihan, bisa saja ia sampai tidak datang ke tempat wawancara tanpa memberi kabar perusahaan yang menghubunginya. Selain mendapatkan kerugian karena kehilangan kesempatan mendapat pekerjaan, ia bahkan mendapat nilai jelek sebagai pelamar pekerjaan.

    Gangguan kecemasan sendiri memiliki beberapa jenis, antara lain fobia (spesifik dan sosial), gangguan panik (dengan atau tanpa agoraphobia), gangguan cemas menyeluruh, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan stres pascatrauma.

  5. Gangguan afektif (Fausiah, 2008)

    Sebelum membahas definisi gangguan afektif, kita perlu mengetahui perbedaan afek dan afektif. Afek adalah emosi yang dimunculkan oleh seseorang, sedangkan afektif biasa disebut dengan mood atau suasana hati. Afek/ emosi umumnya muncul secara singkat sedangkan mood/ suasana hati adalah situasi emosi internal yang persisten dan bertahan cukup lama. Afek utama yang ada pada manusia adalah bahagia, sedih, marah, terkejut, jijik, dan takut. Berbeda dengan mood biasanya hanya meningkat (elatif), normal, atau menurun (depresif). Afek yang muncul dapat sesuai atau tidak dengan mood yang dirasakan seseorang. Misalnya pada seseorang yang baru saja mendapat kabar bahwa dirinya gagal diterima perusahaan tempat ia sangat inginkan akan merasakan mood sedih selama beberapa hari. Namun selama mood sedih tersebut, ia masih mampu merasakan emosi selain sedih, walau dalam waktu yang singkat.

    Pada orang yang normal, mereka dapat mengalami berbagai mood dan ekspresi emosi yang cukup seimbang pada mood yang elatif, normal, maupun depresif. Mereka juga memiliki kemampuan mengontrol mood ataupun afeknya. Sedangkan pada individu dengan gangguan afektif, mereka merasa kehilangan kontrol tersebut dan mengalami stres besar karenanya (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994 dalam Fausiah, 2008). Jenis pada gangguan afektif ini pada umumnya terbagi dua, yaitu a) gangguan depresif mayor, hanya mengalami mood depresif atau menurun, b) bipolar, mengalami mood depresif dan mania, mood meningkat, namun tidak bisa mengontrolnya, dan c) gangguan mood lainnya yang memiliki kemiripan karakteristik dengan gangguan sebelumnya namun tidak memenuhi karakteristik penuh untuk ditegakkan diagnosa gangguan sebelumnya.

  6. Gangguan skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya (Fausiah, 2008)

    Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani; "schizein" yang berarti "terpisah" atau "pecah" dan "phrenia" yang berarti "jiwa". Arti kata tersebut menjelakan karakteristik utama dari gangguan skizofrenia, yaitu adanya pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku orang yang mengalaminya. Skizofrenia merupakan bagian dari gangguan psikotik, yang ciri utamanya adalah kegagalan dalam melakukan reality testing, atau ketidakmampuan membedakan kehidupan nyata dan kehidupan yang ia ciptakan dari pikirannya.

    Skizofrenia memiliki dua gejala utama, yaitu gejala/ simptom positif dan negatif. Gejala positif adalah perilaku yang umumnya tidak muncul pada orang normal, namun muncul pada orang dengan skizofrenia (ODS), yang terdiri dari dua macam, yaitu halusinasi dan delusi/ waham. Halusinasi adalah penghayatan yang dialami panca indera tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata. Misalnya merasa mendengar suara padahal tidak ada suara tersebut atau merasa berbicara dengan orang yang ada di depannya padahal tidak ada orang yang dimaksud di depannya. Pengertian delusi/ waham adalah keyakinan yang keliru, yang tetap dipertahankan walaupun telah dihadapkan dengan bukti yang cukup tentang kekeliruannya. Misalnya merasa dirinya seorang agen rahasia dari Inggris, walaupun dirinya tidak bisa berbicara bahasa tersebut.

    Gejala lain, yaitu gejala negatif adalah perilaku yang umumnya muncul pada orang normal namun tidak dimunculkan pada ODS, yaitu avoliasi (hilangnya minat atau energi dalam melakukan kegiatan rutin), alogia (penurunan kuantitas atau isi pembicaraan), anhedonia (ketidakmampuan merasakan kesenangan pada hal-hal yang sebelumnya ia senangi), abulia (tidak mampu memikirkan konsekuensi dari sebuah tindakan), asosialitas (hambatan dalam hubungan sosial), dan afek datar/ tidak sesuai. Gejala lain yang muncul adalah disorganisasi, pada perilaku atau pembicaraan. Munculnya gejala-gejala tersebut membedakan jenis-jenis pada skizofrenia.

    Gangguan psikotik lainnya memiliki beberapa gejala yang serupa dengan skizofrenia namun tidak dapat ditegakkan diagnosa sebagai skizofrenia karena memiliki karakteristik lain yang berbeda, antara lain gangguan skiziniform, gangguan skizoafektif, gangguan delusi, gangguan psikotik karena kondisi medis atau pengguanaan zat, ganguan psikotik atipikal, ganguan psikotikterkait budaya, dan gangguan psikotik yang tidak termasuk jenis-jenis di atas.

    skizofrenia

  7. Gangguan kepribadian (Widury, 2008)

    Sebelum menjelaskan mengenai gangguan kepribadian, perlu dipahami definisi kepribadian terlebih dahulu. Kepribadian didefinisikan sebagai gabungan emosi dan tingkah laku yang membuat individu memiliki karakteristik tertentu untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya memunculkan pola perilaku yang maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama, biasanya sejak masa kanak-kanak. Pola tersebut biasanya mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari, misalnya pada relasi sosial dan pekerjaan. Individu dengan ciri kepribadian tersebut tidak merasakan adanya masalah pada dirinya, namun orang di sekitarnya yang merasakan ketidaknyamanan tersebut. Oleh karena tidak merasa ada masalah pada dirinya, ia pun biasanya menolak untuk mendapatkan bantuan dari terapis. Beberapa jenis gangguan kepribadian antara lain gangguan kepribadian paranoid, skizoid, skizotipal, antisosial, ambang batas (borderline), histrionik, narsisistik, menghindar (avoidant), dependen (dependent), dan obsesif-kompulsif.

  8. Gangguan yang berhubungan dengan zat (Fausiah, 2008)

    Istilah zat yang dimaksud dalam gangguan ini adalah berbagai macam zat, antara lain a) zat yang berpengaruh terhadap aktivitas otak sebagai efek spesifik, seperti memicu mood dan menimbulkan ketergantungan (Milhorn, 1994 dalam Fausiah, 2008), b) zat termasuk obat-obatan ilegal dan pbay-obatan legal yang memiliki tujuan ilegal dan penggunaannya tanpa resep dokter. Zat-zat yang termasuk dalam gangguan ini antara lain alkohol, nikotin, kanabis (ganja), zat sedatif dan stimulan, LSD dan halusinogen lainnya.

    Pada gangguan yang berhubungan dengan zat, digunakan istilah ketergantungan, dimana terdapat pola penggunaan zat yang maladaptif, yang menyebabkan terjadinya gangguan atau stres yang signifikan secara klinis, muncul pada tiga atau lebih hal berikut, dan berulang kali terjadi dalam rentang waktu 12 bulan. Hal-hal tersebut antara lain:

    1. toleransi, kebutuhan meningkat sedangkan efek yang dirasakan menurun,
    2. gejala putus-zat (withdrawal), gejala yang muncul akibat adanya pengurangan atau penghentian pemakaian zat,
    3. zat digunakan dalam jumlah lebih besar atau periode yang lebih lama dari yang dikehendaki,
    4. keinginan besar atau usaha yang gagal dalam mengontrol atau menghentikan penggunaan zat,
    5. membutuhkan banyak waktu dalam rangkaian mendapatkan, menggunakan, dan pulih dari efek penggunaan zat tersebut,
    6. aktivitas sosial, pekerjaan, dan rekreasi dihentikan atau dikurangi karena penggunaan zat, dan
    7. pemakaian zat dilanjutkan meskipun telah mengetahui dampak negatif, pada fisik dan psikologis, dari penggunaan zat.

 

PENANGANAN GANGGUAN MENTAL SECARA MEDIS DAN PSIKOLOGIS

Pada umumnya, beberapa gangguan mental membutuhkan penanganan secara medis (obat-obatan) dan psikologis. Pada beberapa kasus, yang belum sampai pada tahap gangguan berat, dapat diberikan penanganan psikologis tanpa medis. Lalu pada kasus lainnya, penanganan psikologis dan medis harus diberikan secara berdampingan. Penanganan medis membantu mengatasi sumber masalah yang berasal dari faktor genetik dan biologis, sedangkan penanganan psikologis diberikan untuk menangani masalah yang terkait psikologis individu atau membantu dalam mengatasi tekanan dan masalah hidup yang dianggap berat. Beberapa jenis penanganan psikologis antara lain, konseling, terapi kognitif-perilaku, terapi dengan kesenian, dan lain-lainnya.

Lamanya penanganan medis yang diberikan dipengaruhi oleh jenis gangguan yang dialami. Pada kasus skizofrenia, penanganan medis diterapkan seumur hidup. Selama konsumsi obat dilakukan secara teratur, faktor pemicu - baik dari aspek sosial atau psikologis - diketahui dan dapat ditangani, terutama disertai dengan dukungan sosial yang baik, individu dengan skizofenia dapat menjalani kehidupannya seperti biasa.

 

TESTIMONI PENYANDANG GANGGUAN MENTAL YANG SUDAH RECOVER

Pengalamanku Sembuh dari Skizofrenia

 

DATA

Permasalahan kesehatan jiwa sangat besar dan menimbulkan beban kesehatan yang signifikan. Data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional (gejala-gejala depresi dan kecemasan), sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas. Hal ini berarti lebih dari 14 juta jiwa menderita gangguan mental emosional di Indonesia. Sedangkan untuk gangguan jiwa berat seperti gangguan psikosis, prevalensinya adalah 1,7 per 1000 penduduk. Ini berarti lebih dari 400.000 orang menderita gangguan jiwa berat (psikotis). Angka pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa berat sebesar 14,3% atau sekitar 57.000 kasus gangguan jiwa yang mengalami pemasungan. Gangguan jiwa dan penyalahgunaan Napza juga berkaitan dengan masalah perilaku yang membahayakan diri, seperti bunuh diri. Berdasarkan laporan dari Mabes Polri pada tahun 2012 ditemukan bahwa angka bunuh diri sekitar 0.5 % dari 100.000 populasi, yang berarti ada sekitar 1.170 kasus bunuh diri yang dilaporkan dalam satu tahun.

Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2015-2019

 

Referensi

Fausiah, F. & Widury, J. (2008). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Basri, A. S. (Editor). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Hawari, D. (1999). Al-Qur'an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Mental. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa.

Kring, A.M., Davison, G.C., Johnson, S.L., dan Neale, J.M. (2013). Abnormal Psychology 12th Ed. New Jersey: John Wiley&Sons, Co.

Khakam, A. (2014, Februari). Ciri-ciri jiwa yang sehat. Diambil dari Ciri-ciri jiwa yang sehat

 

Link Terkait:

Fakta Tentang Gangguan Jiwa

Video Tentang Gangguan Jiwa